Just decontaminate my mind

Ayat-ayat Cinta The Movie - My Review

February 28, 2008 – 8:34 pm | by decon 2,432 views

Sudah sekitar seminggu ini film Ayat - ayat Cinta yang biasa disingkat dengan “AAC” menghiasi layar bioskop di Surabaya. Film Ayat-ayat Cinta ini diangkat dari sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul sama dengan filmnya. Banyak temen²ku yang dah ngebet pengen nonton film ini, apalagi bagi yang dah baca novelnya. Aku sendiri dah baca novelnya sekitar 3 tahun yang lalu dan habis dalam 3 hari (saking penasarannya :P), its so inspiring, membuat diriku lebih bersemangat untuk belajar lebih banyak mengenal tentang agamaku.

Sang penulis novel Ayat-ayat Cinta memang sangat piawai dalam membuat alur cerita dalam novel tersebut, dan sangat pandai membuat kata² yang indah dan eksotis, sehingga membuat orang yang membaca menjadi terbawa perasaan dan emosinya.

Meski judulnya mengandung kata Cinta, tapi novel tersebut (Ayat-ayat Cinta - red) tidak mengumbar kata² “cinta” seperti novel² percintaan yang lain. Dan yang lebih menarik lagi hal itu ditunjukkan dengan kesholehan seorang laki² yang bernama Fahri, seorang pemuda yang zuhud, kuat dan teguh memegang agamanya, berusaha membahagiakan orangtuanya, dan meraih cinta yang sesuai syar’i melalui pernikahan, tanpa pacaran, menjaga pandangan, bahkan tidak mau bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Di dalam novelnya diceritakan sangat apik tentang akhlak Fahri ini, hal ini terlihat waktu maria menciumnya di rumah sakit, setelah mengetahui bahwa dia dicium, dia marah besar.

Percintaan dan romantisme dalam Ayat-ayat Cinta menunjukkan keharmonisan sebuah keluarga yang terbentuk tanpa adanya pacaran, kemudian dilanjutkan dengan menikah dimana Fahri sebagai seorang laki-laki yang belum mempunyai pekerjaan dan masih dalam akhir² perkuliahan S2-nya mendapatkan keridhoan dari sang istri dengan kondisinya tersebut dan mereka berdua ridho dengan kondisi masing². Ini yang membuat beda dengan novel² percintaan remaja yang lain. Romantisme hubungan dan komunikasi suami istri diperlihatkan dengan sangat bagus sekali oleh sang penulis, bukan percintaan yang mengumbar nafsu percintaan seperti cinta anak Mahasiswa dan SMA atau SMP sekarang yang sering berjalan berduaan sebelum menikah.

Yah banyak yang aku suka dari kisah novelnya, meski ada beberapa pendapat yang sedikit berseberangan dengan penulis.

Sekarang mari kita lihat filmnya ,

Setelah baca blognya mas Hanung Bramantyo selaku sutradara film ayat-ayat cinta yang ditulis sampai 4 halaman lebih, saya sangat salut dengan perjuangan dan idealisme mas Hanung untuk mewujudkan kisah dalam novel ayat-ayat cinta menjadi realita dan berusaha disesuaikan dengan bayangan para pembacanya. Dari mulai survey lokasi, mencari pemeran utama, sampai mendapatkan dukungan dari Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin. Wah pokok’e bener² pantang menyerah. Salut buat mas Hanung.

Selain itu saya juga salut karena kepiawaian dan kejeniusan mas Hanung dalam menerjemahkan eksotisme dan latar belakang kejadian di lokasi dengan biaya yang terbatas dengan hasil yang maksimal. Wah memang sutradara maut :D.

Tapi banyak kalangan yang mengkhawatirkan bahwa film biasanya tidak sebagus novelnya, dan banyaknya fakta yang memperlihatkan itu, maka saya sendiri melihat film ayat-ayat cinta ini tidak sesuai harapan (harapan saya maksudnya :P). Saya akui memang sangat bagus dari segi cerita dan cara mas hanung menampilkan alur² kejadian dalam film tersebut, ditambah dengan memberikan nuansa dan pemandangan eksotisme ala Mesir.

Meski saya tidak mengenal mas Hanung secara langsung dan hanya kenal melalui blognya di blogspot dan blognya yang lain di friendster, saya sangat senang dengan idealisme mas hanung dalam menghasilkan sebuah karya dan memaksimalkan karya tersebut, hal ini terlihat dari curhatnya tentang film sayekti dan hanafi dan film brownies.

Nah dari situ didukung dengan pesan umminya mas Hanung dalam blog yang dia tulis “kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam” dia begitu bersemangat dalam mewujudkan film tersebut. Saya membayangkan pressure yang mas Hanung rasakan dalam pembuatannya, gejolak emosi dan idealismenya yang sering berseberangan dengan producer, pressure terhadap biaya terbatas dan jadwal yang ketat, wah benar² pantang menyerah. Untuk selengkapnya baca aja “Kisah dibalik produksi ayat-ayat cinta” di blognya.

Redaksi detik, dalam detikhot yang berjudul “Ayat-ayat Cinta: Cinta Atau Sekadar Ingin Memiliki” memberikan komentar tentang hasil film ayat-ayat cinta ini, dan saya sependapat dengan detik, mereka mengatakan bahwa film ini lebih mengangkat cerita cintanya. Dan menurut mereka esensi dalam novel ayat-ayat CInta sudah terwakili dalam filmnya. Dan saya tambahkan pendapat saya, film ini memang lebih terlihat menonjol dalam cerita cintanya dibandingkan dengan esensi islaminya, lain dengan apa yang ada dalam novelnya yang sangat kental nuansa religinya.

Bagaimana menurut saya ..?? (hehehe kok narcis banget .. sok bener.. sok kritikus .. :P)

Menurut saya film tersebut kalo saya lihat sepertinya jauh dengan harapan untuk menampilkan sisi islami dari novel Ayat-ayat Cinta. Dalam novelnya kisah romantisme dan percintaan terasa sebagai hiasan kecil dibandingkan dengan sisi religinya, dimana terlihat bagaimana dinginnya karakter Fahri dengan seorang wanita, dan terlihat apabila berkomunikasi dengan Maria hanya apabila kalo ada perlunya saja, dan dia tidak pernah memikirkan masalah cinta dan lainnya, hanya waktu dia ditawari untuk menikah saja yang menjadi awal romantisme bagi dirinya dalam novel ini. Dan cerita² romantismenya hanya ditunjukkan di pertengahan novel sampai akhir.

Kalau di filmnya…, maaf ya mas Hanung, saya saya angkat topi sama anda, tapi saya juga punya idealisme dan harapan buat filmnya anda, gak papa kan ? :)

Setelah saya lihat, film Ayat-ayat Cinta ini, terlihat sekali yang ditonjolkan diawal adalah masalah romantisme, hal ini terlihat dari banyaknya hal² kecil yang sudah mengarah kepada percintaan seorang muslimah di awal pertama film ini dimulai. Misal pas ada kejadian Nurul menulis dalam diarinya dibawah foto Fahri “lelaki tersayang”. Kemudian ada gambar Fahri jalan berdua dengan Maria, bahkan di tengah² film .. mereka duduk dan ngobrol berdua. Nah hal ini tidak ada dalam novel, dan hal ini adalah termasuk khalwat yang dilarang dalam islam.

Kemudian ada adegan dimana Fahri makan bersama teman²nya dan Maria nimbrung disitu, terus ada lagi dimana seharusnya seorang lelaki muslim menundukkan pandangan apabila melihat wanita yang bukan muhrimnya tetapi disini ditonjolkan pandangan fahri dengan aisha pertama kali bertemu, dan mereka bersentuhan pada saat mengambil tasbih dari tangan fahri. Padahal di dalam novel Fahri digambarkan seorang yang sempurna yang menjaga agama dan kehormatannya. Tetapi dalam film ini Fahri yang diperankanoleh Fedi Nuril terlihat seperti seorang yang culun, dan terlihat kurang dewasa.

Sebenarnya dari alur cerita sudah bagus, dan mendekati kesesuaian dengan yang ada di novel tetapi bagian terakhir yang ditambahkan (tidak ada dalam novelnya) terasa jadi gak pas, karena disitu diperlihatkan bahwa Aisha saking cemburunya menjadi kabur dari rumah. Padahal hal tersebut tidak ada dalam novel, dan Aisha adalah seorang sosok yang menjaga kehormatan wanitanya, tidak berbicara manja, seperti dalam ketemu Fahri sebelum jadi istrinya. Aisha dalam novel digambarkan seorang yang wanita yang tabah, sehingga seperti diceritakan dalam novel dia cemburu karena Fahri berduaan di kamar rumah sakit dengan maria yang sedang tergolek lemah dan sakit. Dan dengan besar hati Aisha memberikan cicin pernikahannya untuk dijadikan mahar pernikahan Maria dan Fahri.

Selain itu ada adegan tentang konflik rumah tangga Fahri setelah dia bebas dari tuduhan pemerkosaan, kalo menurut saya sebenarnya tidak begitu penting, karena sebenarnya esensi dari novel Ayat-ayat Cinta adalah romantisme dan percintaan dalam islam yang sarat nuansa religi dan ketabahan seorang muslim dan muslimah dalam menghadapi hidup, cobaan dan fitnah dunia.

Untuk Maria, karakternya terlihat dia pakai pakaian biasa dan tidak digambarkan berpakaian tertutup rapi (menggunakan abaya) tetapi tidak menggunakan kerudung seperti bayangan saya yang diceritakan dalam novelnya.

Yah begitulah .. saya lebih menyoroti masalah pembentukan karakter yang kurang kuat, dan kurang ditonjolkannya sisi kebudayaan islami yang benar. Gak kaget, hal ini memang sudah disinggung oleh blognya mas Hanung, tentang pengaruh hedonisme dan pop nya. Disamping itu juga menghadapi tekanan dari producer yang berharap film ini laku keras dan ditonton oleh jutaan remaja di Indonesia. Akhirnya sisi komersil mengalahkan sisi idealisme . abis di edit :P (thanks mas Dagdo)

tapi … Ya iyalah .. kalo nggak gitu (gak menunjukkan romantisme) lak gak laku .. hehehe. Bisa rugi dong ..

Sekali lagi welldone buat mas Hanung yang telah berusaha maksimal dalam mengangkat kisah novel Ayat-ayat cinta. Semoga para remaja, ibu², bapak² dan para moviegoers tidak hanya melihat dari sisi romantisme dan percintaannya saja, tetapi lihatlah dari sisi bagaimana akhlak seorang muslim dan muslimah yang benar, bagaimana hubungan antar non muhrim, bagaimana seharusnya cara berpakaian seorang muslimah, bagaimana cara bermuamalah dengan orangtua, kemudian mengisi kegiatan dengan hal² yang bermanfaat dll. Sepertinya nilai ² islami yang terkandung dalam filmnya hanya itu. Dan saya sarankan lebih bagus baca novelnya ..

Yang terakhir, banyak teman² ku yang belum baca novelnya memuji film Ayat-ayat CInta mas Hanung ini, mereka mengatakan lebih bagus daripada film bernuansa islami lainnya, dan mengatakan film islami yang paling bagus diantara film² islami lainnya.

Bagi saya … biasa aja .. tuh .. bagaimana dengan anda .. :)

PS:

Mas Hanung no hurt feeling yah ..?? ini Cuma unek² saya yang tidak ingin nilai² yang bukan islami masuk dalam film anda dan dianggap hal itu islami. Peace …

Tags: , , , , , , ,

  1. 42 Responses to “Ayat-ayat Cinta The Movie - My Review”

  2. By Elreso on Feb 29, 2008 | Reply

    PertamaX, komen nick , salut dech buat Mas Decon, terus kan karyamu dalam perpileman walah ……..glodakkkk

    [Reply]

  3. By isnan chodri on Feb 29, 2008 | Reply

    well …. tetep aja …. not interested …. baik novel, filem, komik, sinteron, filem lepas, atau apapun … well … yang penting vector

    [Reply]

  4. By decon on Feb 29, 2008 | Reply

    @isnan

    Wakakakaka … gue suka gaya loe .. :P

    [Reply]

  5. By ana on Feb 29, 2008 | Reply

    Emang ya gitu….
    apa si sutradara pernah ngaji/ ta’lim kayak habiburahman El…. sapa tuh pengarang novelnya?
    Apa si sutradara juga tau masalah khalwat? ikhtilat? proses syar’i menuju pernikahan Islami?
    ya akhirnya gitu deh…
    meski aku cuma baca blognya SI SUTRADARA (ga’ nonton filmnya ato baca novelnya….)
    BOLEHKAH CERITA FIKSI/ HAL YANG DIBUAT-BUAT DALAM ISLAM MENJADI SARANA DAKWAH?

    [Reply]

  6. By decon on Mar 1, 2008 | Reply

    BOLEHKAH CERITA FIKSI/ HAL YANG DIBUAT-BUAT DALAM ISLAM MENJADI SARANA DAKWAH?

    Humm masalah ini bisa dilihat di situs ini… saya mengikuti pendapatnya mereka :)

    [Reply]

  7. By rosi_widad on Mar 3, 2008 | Reply

    sudah2 jgan berdebatt sesungguh nya orang yang berdebat itu orang yahudi

    [Reply]

  8. By decon on Mar 3, 2008 | Reply

    :) … ini kan opini … siapa yang suka siapa yang nggak suka silahkan .. bebas coment kok .. asal bukan masalah agama aja .. :) agama yah cari yang paling haq .. :)

    [Reply]

  9. By Eastxander on Mar 3, 2008 | Reply

    Aku setuju banget mengenai review AAC decon… sudah mewakili perasaaan aku… heheheh….:)

    [Reply]

  10. By jingga on Mar 4, 2008 | Reply

    maaf , karena takut komentar saya nanti kepanjangan, sungkan sama yg punya blog :D ,
    silahkan bisa dibaca langsung DISINI

    jingga’s last blog post..A2C The Movie ~ In My Opinion

    [Reply]

  11. By Yaya on Mar 4, 2008 | Reply

    Kan film ini berdasarkan novel, jadi gak harus sama dengan novelnya :)

    [Reply]

  12. By decon on Mar 4, 2008 | Reply

    nice word mbak Yaya .. :)
    tak akuin bagus sih filmnya, cuman karena dah baca novelnya, jadi ekspektasinya berlebihan .. :D
    mungkin lain kalo baca novelnya belakangan ..

    [Reply]

  13. By decon on Mar 4, 2008 | Reply

    @jingga
    Reviewnya keren euy, … sampek apal kata² dalam dialognya … berkesan banget yah mbak ..?? :D

    [Reply]

  14. By nasgur on Mar 5, 2008 | Reply

    “Meski judulnya mengandung kata Cinta, tapi novel tersebut tidak mengumbar kata² “cinta” seperti novel² percintaan yang lain.”

    Novel yang mana, bro?

    [Reply]

  15. By theloebizz on Mar 5, 2008 | Reply

    ternyata AAC bikin keributan dimana2 yaaah :)

    [Reply]

  16. By theloebizz on Mar 5, 2008 | Reply

    ternyata AAC bikin keributan dimana2 yaaah :)
    theloebizz’s last blog post..tHanK u..

    [Reply]

  17. By widagdo on Mar 6, 2008 | Reply

    wah… kalo based on novel kayaknya gak ada yang akan lebih bagus…
    harry potter, narnia banyak film-film sejenis…
    tapi ini lain, karena mengandung pesan moral harusnya pesan moral tersebut yang dikedepankan bukan sisi pop-nya..

    mau koreksi dikit mas decon,

    “..Akhirnya sisi idealisme mengalahkan sisi komersil..”

    afwan ini gak kebalik ta? syukron, nice review

    widagdo’s last blog post..Kram Otak

    [Reply]

  18. By decon on Mar 6, 2008 | Reply

    @mas widagdo
    Dah di perbaiki mas .. :) Syukron .. :)

    [Reply]

  19. By Musafir Kecil on Mar 7, 2008 | Reply

    Saya setuju ma mba ana
    sayang ga bisa komen banyak…
    masih cetek ilmunya…

    Musafir Kecil’s last blog post..Vakum dulu ya…

    [Reply]

  20. By Ariyo W. Jinca on Mar 9, 2008 | Reply

    Saya nonton film ini kemarin bersama dengan teman saya, meskipun banyak pihak yang menilai film ini tidak sebaik dengan novelnya. Marilah kita menilainya secara jujur apa adanya. Kalau kita membandingkan film ini dengan novel ya jelas konteksnya berbeda. Novel melibatkan imajinasi kita yang memang tak terbatas, mulai dari situasi di Mesir yang indah, karakter Fachri yang kuat, kondisi keimanan yang betul-betul strong religius. Dan pasti novel tersebut seindah bayangan kita masing-masing.

    Berbeda dengan film, semuanya memiliki keterbatasan. Mulai dari mencari aktor yang betul-betul berkarakter, storyline yang maksimal cuman bisa 2 jam, budget dan teknologi film yang terbatas. Saya melihat sutradaranya sudah berusaha maksimal mempersembahkan film ini sebaik mungkin dengan tetap memperhatikan asas religiusnya. Kekurangan di sana sini, saya rasa sangat wajar, karena memang film dibuat untuk menghibur penontonnya,tanpa kehilngan nyawa novel aslinya.

    Rasa salut patut kita berikan atas karya anak bangsa kita sendiri, dan rekan-rekan muslim semuanya.

    [Reply]

  21. By Yuma on Mar 10, 2008 | Reply

    Mungkin penilaian decon jelek karena yang kamu lihat itu bajakannya yang masih belum final. Kalau lihat di bioskop pasti bilang bagus deh.

    [Reply]

  22. By Tintin on Mar 10, 2008 | Reply

    @Ariyo Thanks .. atas urun pendapatnya .. :)
    @Yuma … hahaha :)
    Tintin’s last blog post..NgeBlog Kok Repot, mo Narsis, Curhat, Ngoceh, Whatever lah .. :P

    [Reply]

  23. By drjt on Mar 10, 2008 | Reply

    yah, tapi ada juga positipnya. lumayan. orang awam jadi tau kalo islam kagak ngenal yg namanya pacaran. kl mo nikah, ya bisa taaruf dulu. lumayan lah.

    (^_^)v

    drjt’s last blog post..Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 2½

    [Reply]

  24. By Elreso on Mar 10, 2008 | Reply

    Saya ndak menyikapi dari segi cerita dah…
    Saya ingin berpendapat tentang hal2 kecil yang ada disitu.

    Misal :
    fahri memegang gelas dengan tangan kiri
    fahri minum sambil berdiri
    pakaian maria yg tidak sesuai gambaran novelnya

    hehehehe, selanjutnya aku ndak tau… karena aku ndak lihat terusannya karena agak suram filmnya…
    nanti2 aja kalo lagi nganggur, baru lihat…

    andai kalau pendapat “kalo disesuaikan persis dengan novelnya bisa panjang ceritanya”… yup benar setuju. Tapi apa detail2 kecil seperti sikap dan kostum tidak bisa lebih di”benar”kan :)

    moga2 ada miniseri tentang ayat2 cinta :P
    khan biasanya yg laris2 itu bakal ada versi panjangnya (aka sinetron / mini seri)

    Elreso’s last blog post..Unsupported anymore mean freeware ???

    [Reply]

  25. By Eka on Mar 11, 2008 | Reply

    yah agak kecewa sih liat filmnya…abisan emang jauh banget… :) banyak karakter yg hilang…kapan nih dibuat yg lebih mirip…masih niat nonton loh saya…. :)
    Eka’s last blog post..Bulu Mata Palsu

    [Reply]

  26. By inong on Mar 13, 2008 | Reply

    harusnya bukan buat mas hanung, decon kudu nulis buat produser: Punjambi dan dkk itu lah yang memilih orang-orang buat jadi penulis naskah, terus naskah juga didukunin dulu, apakah film ini laku ato engga … (info dari orang dalem yang pernah gaul di multi lho)
    so hasilnya kurang islami? wajar aja
    skarang mo nonton film islam? jarang ada yang bisa mendekati film islam banget. mo nonton FILM KUNFAYAKUN-nya USTAD YUSUF MANSYUR. …. udah liat trillernya ya ampun! sinetron banget
    seharusnya emang, produser dan sutradara berkesinambungan dalam ikhtiar dan usahanya.

    [Reply]

  27. By D Nurulingtresna on Mar 13, 2008 | Reply

    Salam,….saya beli novel ayat ayat cinta karena suami saya namanya Fahri, dan saya istrinya namanya

    Nurul….,Penasaran juga filmnya apa sehebat novelnya.???.

    Karena kami di Kuala Lumpur….,belum tau kapan …bisa nontonnya.

    [Reply]

  28. By Fenty on Mar 14, 2008 | Reply

    Seharusnya dari awal pandangan penonton tuh nggak menyamakan. Saya sendiri sudah yakin kalau film tersebut tidak akan sama dengan bukunya. Tapi saya tetap menikmati saja menonton filmnya.

    Fenty’s last blog post..Fenty yang lagi kebanyakan tugas

    [Reply]

  29. By decon on Mar 14, 2008 | Reply

    @elreso - :) wah kalo dah kenal tata cara islami maka akan melihat bagaimana sebenarnya film islami itu .. :)

    @Eka - kata pengarang bukunya kalo mau bikin mirip biayanya bisa sampai 10 M

    decon’s last blog post..Menunggu Kelahiran Anak Pertama

    [Reply]

  30. By decon on Mar 14, 2008 | Reply

    @elreso - :) wah kalo dah kenal tata cara islami maka akan melihat bagaimana sebenarnya film islami itu .. :)

    @Eka - kata pengarang bukunya kalo mau bikin mirip biayanya bisa sampai 10 M

    @inong - iyah mbak .. :) walah kalo sampe di dukunin bisa mengandung kesyirikan dong .. kacian .. :(
    btw Kunfayakun ceritanya ttg apa yah mbak ..??

    @Mbak nurul - wah sabar yah mbak .. coba tanya sama sodara di INdon aja . kalo dah keluar picidinya

    @Fenty - :D , gimana yah nggak bisa menyamakan .. :) soalnya adaptasi dari novel biasanya kebawa pikiran untuk berharap sama atau sangat mendekati dengan novelnya .. meski dah yakin bakalan susah .. :D, kecuali bagi yangbelum baca novelnya .. contoh, saya lihat Lord Of The ring Trilogy, :D
    decon’s last blog post..Menunggu Kelahiran Anak Pertama

    [Reply]

  31. By ratna on Mar 24, 2008 | Reply

    asli gue belom pernah baca bukunya ataupun nonton pilemnyah..(lha terus yang mo dikomentarain pa dooongs?..hi hi..) biarpun bgtu secara tmen-tmin gue udah pada baca n’ nonton pilemnya jadinya sedikit banyak gue bisa ambil kesimpulannya yaituuuu ;

    - pilemnya gag sebagus novelnya
    - versi pilem —>fahrinya cenderung berkarakter ‘mas boy’, selain kejanggalan yang disebut diatas.
    - versi novelnya—> ini ada tmen gue yang bilang klu novelnya tuh lebih ke ‘cerita cinta yang islami’ ketimbang cerita ‘islami yang ada cintanya’ jika dibanding cerita islami lainnya ex; “turkistan negeri islam yang hilang”
    - eniwei innamal a’malu binniyat..brubung gue gag tau niatan yang jelas dari Kang Abik untuk novelnya, sejauh ini sih klitannnya niatnya baik, jadi gag masalah.
    - sayang banget ya..lagi-lagi rupiah berkuasa atas intelektualitas, integritas n’ idealism, yang akhirnya malah bikin cerita yang bagus itu jadi sedikit kacangan n’ nyinetron he he..
    - tokoh fahri dalam novel jika dipadankan karakternya adalah karakter ‘gue bangeet’..cuman bedanya gue lebih ceriah he he.. ^_^

    yuuuuk !!…itulah kesimpulan saya yang singkat jelas n’ padat he he..^^;

    [Reply]

  32. By decon on Mar 25, 2008 | Reply

    @ratna - thanks mbak atas tambahan reviewnya .. :)

    [Reply]

  33. By putRa on Mar 26, 2008 | Reply

    Assalamu’alaikum

    >> idem ouy…
    saya juga sepakat tuh…

    GooD… gOOd…
    pedes baget kritiknya mas..
    tapi oK deh..!byar sama2 ngebangun..

    bwt sutradara “maS Hanung”.. sabar mas..
    kita ney di negara yang penuh kritik-mengkritik..semoGa bermanfaat aja n
    bisa bikin karya yang jauh lebih bagus terutama sisi islaminya..

    banyak orang ngaku islam malah kaGak tau islam yang sebenarnya kayak gimana..
    Bikin karya film2 islami yang lebih “islami” mas.. itung2 nambah tabungan kelak di akhirat..

    bwt kang Habiburrahman El Shirazy.. tak ada kata2 laen selain “Karya akang keren banget!hebat ouy..”
    baru kali ini saya baca novel islami sampai ke Hati Nurani terdalam.. Subhanallah

    Wassalam..

    [Reply]

  34. By decon on Mar 26, 2008 | Reply

    @putra - Thanks mas commentnya .. :) btw membuat sebuah karya² film “islami” itu harus berdasarkan kaidah² syar’i yang islami :) so .. semoga aja ada yang mewujudkannya .. :)

    [Reply]

  35. By ina on Mar 27, 2008 | Reply

    Assalamu’alaikum…

    Saya termasuk salah satu dari sekian banyak muslim/muslimah yang sangat terkesan dengan novel AAC. jujur aja, novel itu menjadi suatu titik balik bagi saya untuk berusaha menjadi muslimah yang lebih baik lagi. waktu tau kalo novel ini akan difilm-kan, saya H2C juga sih, harap2 cemas. kayak apa ya ntar jadinya film ini? apakah sedahsyat gambaran saya waktu baca novelnya. nilai yang saya ambil setelah baca novel ini:
    “Bahwa memang demikianlah seharusnya seorang muslim (fahri) bersikap. cintanya kepada Allah benar2 luar biasa, sehingga membuat saya malu. saya jadi ingin punya suami seperti fahri (pasti semua muslimah juga pengen gitu hehehe). tapi pertanyaannya, apa saya bisa? dari novel ini saya menemukan jawabnya, yaitu pria yang baik adalah untuk wanita yg baik pula. jadi ya kalo saya pengen punya suami seperti fahri, ya saya harus berusaha jadi muslimah yang baik juga insya Allah.”

    Setelah liat filmnya……
    agak2 kecewa sih. tapi kalo saya blom baca novelnya pasti saya akan bilang film itu bagus banget, 2 thumbs up dah. tapi ya wajar kalo film ga bisa sama seperti novelnya. fahri jadi keliatan emosional (waktu di penjara), fahri jadi hobi curhat (ama syaiful), aisha cemburuan, aisha jadi keliatan gak yakin dengan fahri (waktu pengacara fahri bertanya apakah aisha memang sudah benar2 mengenal fahri, aisha ngobrak-abrik kamar kontrakan fahri yang lama), fahri dan maria ngobrol berduaan.
    but over all, saya menghargai film ini. film AAC bagus, tapi blom bagus banget.
    wassalam
    -ina-

    [Reply]

  36. By decon on Mar 27, 2008 | Reply

    @ina - :) .. yah apabila ingin mendapatakan suami seperti abu thalib , apakah kita sudah seperti fathimah .. :)

    [Reply]

  37. By Tylla on Mar 27, 2008 | Reply

    HEhehe…hmm, sebagai percobaan, apalagi melihat latar belakang pembuatan film ini dan keseriusan mas sutradara, Ayat2 cinta patut di apresiasi.

    Tetapi secara objektif, sorry to say, hasil dari segala proses yang susah payah ditempuh sutradara demi mengemukakan ide2 interpretatif atas novel dan islam pada umumnya agak jauh dari harapan.

    Plotnya yang mentah, casting pemainnya terkesan asal2an, skenario yang lemah, sampai yang paling sederhana, research soal wardrobe sepertinya tidak berhasil, melihat wardrobe maria, apalgi noura sepengalaman saya sangat tidak mencerminkan perempuan2 yang ada dimesir sana..hehehe..masa krudung noura krudung melayu begitu :D hanya ketika di pengadilan, dia mulai berganti kerudung seperti oprang2 mesir pada umumnya :D

    Belum lagi musik ilustrasi yang…maaf…sangat kacangan , Lantunan qari Emha Ainun Najib yang menggetarkan jadi tersia sia disejajarkan dengan musik yang super ringan dan dangkal…

    Suasana mesirnya juga sama super fake dan dangkal..Jangan bicara soal relevansi dengan novelnya..sepertinya esensi novelnya tidak berhasil diterjemahkan melalui film ini..

    Inkosistensi bahasa yang digunakan,mebuat film ini terlihat seperti produk kacangan…Maria yang orang mesir, Aisyah yang orang jerman - arab, atau noura…semuanya disulap bilingiual..pparahnya, mereka super lancar berbahasa Indonesis tetapi sangat gagap berbahasa arab (coba perhatikan contoh kecil waktu maria melafalkan surat maryam atau uyang lebih sederhana lagi , ketika iya bilang afwan…saya -punya banyak teman tanzania dan mesir disini, nggak ada yang bicara dengan logat cempreng gaul seperti maria) Belum lagi para polisi dan orang2 lainya dalam film itu…haduh…bahasanya hancur2an
    sebegitu pelitnya kah si produser, hingga keberatan membayar dubber berbahasa Arab untuk casts yang berbahasa Arab ?? Sebegitu malasnya kah Mas Sutradara, hingga mengesampingkan bentuk akting cast yang paling sederhana, setidaknya tuntut mereka untuk mendekati aksentuasi dan vokalisasi bahasa yang mereka ucapkan sepatah dua patah..Film ini bisa dihargai sebagai sebuah Film yang serius,menggambarkan suatu ilustrasi cerita dengan serius, bukan dongeng asal2an yang selalu kepentok urusan teknis karena pelitnya produser dan malasnya sutradara menggembleng cast untuk mendalami perannya.menurut saya,Bahasa adalah ilustrasi yang paling sederhana untuk membawa kita merasakan kenyataan alur dan latar belakang cerita…instead of merasakan suasana Kairo, saya jadi berasa berada di kawasan Tanah Abang..

    Mungkin lain kali, Mas Hanung bisa lebih serius dan tidak kompromis dalam mewujudkan idealismenya..terus maju sinema indonesia

    Salam sayang
    Tylla Subijantoro

    Mahasiswa Indonesia di India

    [Reply]

  38. By decon on Mar 27, 2008 | Reply

    @Tylla - Wah .. lagi dinegeri Bollywood nih mbak .. :) btw .. Ayat-ayat CInta berbahasa India (dubbing) dah masuk sana belum .. :)

    [Reply]

  39. By anto on Mar 29, 2008 | Reply

    mengenai tulisan:
    coba dengarkan ilustrasi musik film aac di menit : 17, 37, 56.
    ada agenda zionis dibalik film aac.ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. coba cek di film karya sutradara yahudi steven spielberg :schindler list (film yang dilarang diputar di Indonesia oleh pemerintah tahun 97-an karena berisi kampanye zionisme dan ditolak umat islam). Song theme schindler list sama persis dengan ilustrasi musik yang dipakai di ayat2 cinta(bukan yang lagunya rosa). coba search di youtube “schindler list music” atau
    di. http://www.youtube.com/watch?v=aX2qP3gP_Vs dan http://www.youtube.com/watch?v=ueWVV_GnRIA&feature=related musik itu digubahh komponis zion bernama itzhak Perlman yang diperuntukan untuk kampanye zionisme internasional . mengapa film islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???

    tanggapan saya:
    benar, kalau kita perhatikan dengan seksama ada musik yahudi di film itu. saya udah cek di youtube. dan saya sudah nonton film schindler list dengan lengkap.film itu sangat jewish sekali. ada kesamaan dalam ilustrasi musiknya.kalau film aac sampai diketahui orang2 jewish ( yang nota bene sudah membunuh ratusan ribu muslim palestina), mereka pasti sangat bangga, betapa film islam yang ditonton oleh 3 juta (konon) orang menggunakan musik spiritual mereka.

    kalo memang harus ada plagiat musik dalam film itu, kenapa yang dipilih lagu yahudi? kalo memang harus ada lagu yahudi di film itu kenapa harus dipilih lagu SPIRITUAL yahudi? kan banyak musik2 lainnya yang ngga provokatif yang bisa dibajak dan diplagiat. kalo memang harus ada ilustrasi film lain yang disisipi aac kenapa harus film schindler list? ?. pensisipan ilustrasi musik yahudi dalam aac saya yakin bukan unsur ketidaksengajaan. ada hidden massage, ada pesan tersembunyi, ada komunikasi konspiratif.film schindler list memang awam dikalangan masyarakat indonesia, karena film itu memang dilarang oleh MUI dan pemerintah indonesia. tapi dikalangan sineas? film itu bukan sesuatu yang asing.

    [Reply]

  40. By decon on Mar 31, 2008 | Reply

    @anto - kayaknya kita harus tanya kebenarannya sama sang pakar deh … :D sapa tahu sekitar 68% benar .. :P

    [Reply]

  41. By tika on Apr 14, 2008 | Reply

    ya jelas bedalah antara karya tulisan dengan bentuk visualisasinya, klo smpe sma…G kreatif dong!he3…….

    [Reply]

  42. By tika on Apr 14, 2008 | Reply

    lagian klo dibikin sma,bukan film namanya..SINETRON jdinya.Kn durasinya lma,,,,G ckup gitu loh!!!!!Bisa berlama-lam a di Bioskop.

    [Reply]

  43. By tika on Apr 14, 2008 | Reply

    Gpp ko….Q liatnya bgus..smpe nonton 12 kali,he3….

    [Reply]

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to blogging activity, blogging tips, wordpress tips, wordpress themes info, wordpress plugins, and some my journal, opinion about blogging and my life activity. More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Join My Community at MyBloglog!Comment Count Badge